top of page

Lokakarya Ekoteologi

Peran Guru Madrasah dalam Melestarikan Alam Melalui Ekoteologi Menuju Indonesia Emas 2025

- Oleh KH. Masduki Baidlowi (Ketua MUI)

📅 14 Nopember 2025

pemerintah-dj3k_large.jpg

KH Masduki Baidlowi, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI, menjelaskan bahwa konsep ekoteologi adalah pemahaman bahwa manusia dan lingkungan alam memiliki hak yang sama. Ia menyoroti berbagai bentuk kerusakan lingkungan di Indonesia, yang didorong oleh keserakahan manusia, yang telah menyebabkan pemanasan global, deforestasi, dan bahkan penangkapan ikan berlebihan di lautan. Ketika nilai-nilai spiritual ditinggalkan, ia memperingatkan, manusia menjadi serakah, dan ini menciptakan kesulitan besar dalam menghadapi krisis lingkungan kecuali mereka memahami prinsip-prinsip ekoteologi.

Dalam Lokakarya Ekoteologi untuk Guru Madrasah di Tangerang Selatan, beliau menekankan bahwa menanam pohon bukanlah sekadar hubungan antara subjek dan objek; melainkan, manusia dan tumbuhan adalah subjek yang memiliki haknya masing-masing. Tumbuhan, katanya, memiliki jiwa yang dianugerahkan Tuhan demi keharmonisan, yang menjaga keseimbangan ekologis. Beliau mendesak para guru untuk memahami hal ini agar dapat mewariskannya kepada siswa mereka, baik dalam hal merawat lingkungan maupun dalam memperlakukan hewan dengan welas asih. Jika generasi ini diajarkan kesadaran ekoteologi sejak dini, beliau yakin kondisi lingkungan Indonesia di masa depan akan membaik seiring dengan perubahan pola pikir.

Masduki juga menekankan bahwa di era AI dan komunikasi digital saat ini, ekoteologi tidak boleh hanya menjadi teori. Guru harus menerjemahkannya ke dalam konten digital di berbagai platform, bahkan pesan sederhana seperti "manusia dan alam memiliki hak yang sama." Ia berharap pelatihan ini akan mendorong guru untuk menciptakan konten yang menarik dan viral tentang kepedulian lingkungan. Mendukung inisiatif ini, Dr. Thobib Al-Asyhar dari Kementerian Agama mencatat bahwa ekoteologi merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan membangun kesadaran publik, mulai dari menanam pohon hingga mengubah pola pikir membuang sampah pada tempatnya. Mencintai lingkungan, tambahnya, akan membuat lingkungan "mencintai kita kembali," karena segala sesuatu di bumi memiliki jiwa sebagai manifestasi dari Yang Maha Kuasa.

Pembicara:

  • KH. Masduki Baidlowi
    Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi MUI
    Topik: “Ekoteologi dalam Perspektif Komunikasi di Era Disrupsi: Strategi dan Tantangan”

  • Thobib Al-Asyhar, S.Ag., M.Si.
    Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Kementerian Agama Republik Indonesia
    Topik: “Peran Guru dalam Menanamkan Paradigma Ekoteologi Sejak Dini”

  • Dr. Muchlis M. Hanafi, MA
    Anggota Dewan Pakar di Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ)
    Topik: “Fondasi Al-Qur'an Ekoteologi: Menjelajahi Interpretasi Ramah Lingkungan”

  • Dr. Hayu Prabowo
    Ketua Lembaga Pelestarian Lingkungan MUI
    Topik: “Teori dan Praktik Pengelolaan Hutan Wakaf: Kiat Praktis Memulai Inisiatif Penghijauan”

bottom of page